Arti Monumen Tugu Digulis
Apa Arti Monumen Tugu Digulis?
Di kota Pontianak Provinsi Kalimantan Barat, terdapat sebuah monumen yang dikenal dengan nama Tugu Digulis. Namun begitu, tidak banyak orang yang tahu apa arti Digulis itu sendiri padahal letak Tugu Digulis sendiri di kawasan yang termasuk pusat kota dan cukup dikenal masyarakat. Bahkan bisa dikatakan pula bahwa Tugu Digulis adalah simbol atau maskot kota Pontianak selain Tugu Khatulistiwa. Ini dikarenakan letaknya yang strategis sehingga mudah dikunjungi atau dilihat dan membuatnya lebih ‘terawat’ dibandingkan Tugu Khatulistiwa. Tugu Digulis yang terletak di Bundaran Universitas Tanjung Pura Jalan Jend. Ahmad Yani ini menjadi salah satu spot yang penting pula bagi siapapun yang berkunjung ke Pontianak. Baik para traveller, wisatawan, atau para pejabat Negara karena untuk menuju pusat kota dari bandara Supadio, siapapun pasti melewati Tugu ini.
Beberapa wisatawan mancanegara asal Thailand yang berkunjung ke Pontianak dengan ditemani oleh saya suatu kala pernah menanyakan kepada saya mengenai sejarah dan arti (baik semantis maupun simbolis). Ini dikarenakan lokasinya yang sangat menojol sehingga untuk bepergian ke beragam lokasi di Pontianak, kemungkinan melewati tugu ini untuk beberapa kali sangat mungkin terjadi.
Tugu Digulis juga dikenal sebagai Monumen Sebelas Digulis, atau Tugu Bambu Runcing, atau Tugu Bundaran Untan (Universitas Tanjung Pura) oleh warga setempat. Tugu dalam bahasa Indonesia didefinisikan sebagai ‘tiang besar dan tinggi yang dibuat dari batu, bata, dsb.’ Kata tugu kemudian erat kaitannya dengan monumen, yaitu sebuah bangunan yang digunakan sebagai peringatan sebagai tanda untuk mengingat peristiwa penting, peristiwa bersejarah, atau untuk menghormati orang atau kelompok yang berjasa. Tidak semua monument adalah tugu. Namun hampir semua tugu adalah monumen. Tugu juga kerap digunakan sebagai simbol dan ciri khas sebuah tempat. Misalnya Tugu Monas (Monumen Nasional) sebagai ciri khas Daerah Ibukota Jakarta, Tugu Pal Yogyakarta, dan sebagainya.
Tugu Digulis diresmikan oleh Gubernur Kalimantan Barat H. Soedjiman pada tanggal 10 November 1987. Berbentuk sebelas tonggak menyerupai bambu runcing yang berwarna kuning polos. Pada tahun 1995, monument ini dicat ulang dengan warna merah putih, hanya saja kemudian pada tahun 2006 dilakukan renovasi pada monumen ini hingga berbentuk mendekati bentuk bambu runcing asli seperti pada saat ini dengan penambahan air mancur berwarna-warni yang membuatnya terlihat lebih cantik. Pontianak pun kemudian memiliki bangunan dengan air mancur lagi setelah beberapa bangunan dan spot menempatkan air mancur. Air mancur pun seakan juga menjadi ciri khas kota Pontianak.
Monumen ini didirikan sebagai peringatan atas perjuanagn sebelas tokoh Sarekat Islam Kalimantan barat yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Barat karena khawatir pergerakan mereka akan memicu pemberontakan terhadap pemerintah Hindia Belanda di Kalimantan. Tiga dari sebelas tokoh tersebut meninggal pada saat pembuangan di Boven Digoel dan lima di antaranya wafat dalam Peristiwa Mandor. Nama-nama kesebelas tokoh tersebut kini diabadikan juga sebagai nama jalan di Kota Pontianak. Kesebelas pejuang itu antara lain: Achmad Marzuki, Achmad Su’ud bin Bilal Achmad, Gusti Djohan Idrus, Gusti Hamzah, Gusti Moehammad Situt Machmud, Gusti Soeloeng Lelanang, Jeranding Sari Sawang Amasundin alias Jeranding Abdurrahman, Haji Rais bin H. Abdurahman, Moehammad Hambal alias Bung Tambal, Moehammad Sohor, dan Ya’ Moehammad Sabran.
Bambu runcing diambil sebagai bentuk simbolis perjuangan bangsa Indonesia. Selain karena ‘legenda’ yang menyatakan bahwa banyak pahlawan Indonesia merebut kemenangan dengan mengandalkan beragam senjata, mulai dari senapan dan meriam rampasan perang, senjata tajam (termasuk alat-alat pertanian dan pertukangan), serta kayu dan bambu yang ditajamkan untuk dijadikan senjata, bambu juga merupakan simbol kekuatan supranatural yang membuat rakyat pada saat itu bersemangat untuk merebut kemerdekaan (ini bisa kita lihat dari permainan supranatural/magis di nusantara yang melibatkan penggunaan bambu sebagai media roh).
Kata Digulis kemudian sebenarnya diambil dari kata Digoel dari sebuah tempat di Papua atau Irian Barat saat itu, yang merupakan wilayah Hindia Belanda yang digunakan sebagai tempat pembuangan atau pengasingan tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sekarang merupakan sebuah Kabupaten di Papua yang dikenal dengan sebutan Digul Atas.
Dengan ejaan yang paling mutakhir, kata Digoel dari Boven Digoel menjadi Digul. Kata Digul dalam bahasa Indonesia kemudian juga bisa menjadi sebuah kata kerja mendigulkan yang berarti ‘mengasingkan ke Digul’, dan kata benda pendigulan yang berarti ‘proses, cara, dan perbuatan mendigulkan.’
Kemudian kata digul ditambahkan akhiran –is yang sebenarnya merupakan pinjaman dari suffix bahasa Inggris –ist yang berarti ‘orang atau pelaku’. Sehingga kata Digulist merujuk kepada orang yang dibuang atau diasingkan ke Digul. Melihat dari makna dan sejarahnya, maka tugu Digulis merujuk kepada sebelas pahlawan asal Kalimantan Barat yang merupakan Digulists, atau orang-orang yang diasingkan ke Digul.
https://nikodemusoul.wordpress.com/2014/01/21/apa-arti-monumen-tugu-digulis/






Komentar
Posting Komentar